Merawat Kaldera Toba Toba Sebagai “Truly Geoparks”

banner 468x60

“Danau Toba Truly Geoparks” kalimat itu  terucap dari Vice President Executif Global Geoparks Network  Geoparks Prof Ibrahim Komoo  saat menginjakkan kakinya di kawasan danau Toba tahun 2011 lalu. Sembilan tahun kemudian tepatnya 2020, Global Geoparks Network dan Asia Pacific Geoparks Network pada Sidang ke-209 Dewan Eksekutif UNESCO di Paris, Prancis, Selasa (2/7/2020) menetapkan Kaldera Toba sebagai UNESCO Global Geopark.

Penetapan itu membuat posisi Kaldera Toba masuk pada geopark ke lima setelah Danau Batur (2015) , Sewu (2015), Ciletuh (2018), Rinjani (2018) karena Kaldera Toba memiliki kaitan geologis dan warisan tradisi yang tinggi dengan masyarakat lokal khususnya dalam hal budaya dan keanekaragaman hayati. Konsekwensi penetapan itu pula membuat negara anggota UNESCO mendukung Kaldera Toba dilestarikan dan dilindungi sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark.

Menurut ahli geologi Kaldera Toba terbentuk dari sebuah  ledakan gunung berapi super (supervolcano) sekitar 73.000 sampai 75.000 tahun yang lalu. Setelah letusan tersebut maka  terbentuklah kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba dan tekanan magma yang belum keluar menyebabkan munculnnya pulau Samosir yang dikelilingi Danau Toba sebagai wahana perairan air tawar terbesar di dunia. Keunikan dari Kaldera Toba di ata Kaldera Toba ada kehidupan.

“Melalui penetapan ini, Indonesia dapat mengembangkan geopark Kaldera Toba melalui jaringan Global Geoparks Network dan Asia Pacific Geoparks Network khususnya dalam kaitan pemberdayaan masyarakat lokal,” tutur Duta Besar RI untuk UNESCO Arrmanatha Nasir.

Penetapan Kaldera Toba sebagai UNESCO Global Geopark pula memberikan kesempatan dan sekaligus juga tanggung jawab bagi Indonesia, khususnya bagi masyarakat setempat  dapat mendorong pengembangan perekonomian dan pembangunan berkelanjutan di Kawasan tersebut.

Pengembangan geo-pariwisata yang berkelanjutan, terbuka peluang bagi masyarakat setempat untuk promosi budaya, produk lokal serta penciptaan lapangan pekerjaan yang lebih luas.

Pemerintah dan masyarakat setempat berkewajiban untuk meningkatkan dan terus menjaga kelestarian lingkungan dan keutuhan dari Kawasan Kaldera Toba.

Proses panjang Penetapan Kaldera Toba sebagai UNESCO Global Geopark berkat sinergi dari berbagai pemangku kepentingan baik pemerintah Pusat dan daerah maupun masyarakat setempat yang tinggal di kawasan danau Toba.

Keindahan Kaldera Toba dan kekayaan budaya yang dimiliki menjadikan Danau Toba sebagai salah satu destinasi wisata andalan Indonesia yang masuk dalam daftar “10 Bali Baru”. Selain Kaldera Toba, Indonesia telah memiliki 4 situs UNESCO Global Geopark lainnya, yakni Gunung Batur, Geopark Cileteuh, Gunung Sewu, dan Gunung Rinjani.

Sejak ditetapkan menjadi UNESCO Global Geopark, badai Pandemi Covid-19  menghempang pengembangan industri pariwisata secara global.. Hambatan itu pula yang membuat ancaman akan status Kaldera Toba sebagai UNESCO Global Geopark karena selama 2 tahun pembenahan di 5 sektor seperti terlupakan.

Kritikan dari  berbagai kepada pemerintah pusat maupun daerah sangat penting agar status Dana Toba sebagai objek taman bumi (geopark) kelas dunia dengan sebutan Toba Caldera UNESCO Globat Geopar (TC-UGG) bisa terus dipertahankan.

Pembenahan objek Kawasan Danau Toba (KDT pada sektor-sektor prioritas sesuai standar dan skala geopark harus segera dilakukan karena predikat geopark terhadap satu objek pilihan di suatu negara, hanya berlaku empat tahun karena berikutnya harus menempuh proses verifikasi untuk menetapkan apakah statusnya diperpanjang atau diakhiri (ditutup).

Lima sektor prioritas geopark Toba  yang harus dilakukan pembenahan adalah sektor: konservasi, geo-diversity, lingkungan hidup, pariwisata dan budaya kearifan lokal (local wisdom).

Dementara pada sektor geo-diversity adalah meliputi i 16 objek geosite kawasan TC-UGG yang sudah ditetapkan Pemda dan Badan Geologi Nasional (BGN). Kendala pengelolaan Geosite adalah belum ditampungnya anggaran pengelolaan pada APBD sesuai tuntutan dari Perpres No 9 Tahun 2019, Permenparekraf No 2 Tahun 2020.

Tantangan pada peneglolaan aspek Lingkungan hidup adalah maraknya kerambah jaringapung yang diperkirakan sudah mencapai 10 ribu kerambah. Serta maraknya perambahan hutan dan peralihan fungsi hutan lindung di kawasan KDT.

Terlepas dari berbagai problem yang sedang dihadapi untuk menjawab tantangan atas terancamnya status geopark Toba maka sudah saat nya seluruh stakeholders “mendeklarasikan “ kebangkitan kepariwisataan di Kawasan Danau Toba.

Kolaborasi TC-UGG sebagai pihak mayoritas dalam penataan dan pembenahan destinasi pariwisata KDT dengan KSPN Danau Toba, BPODT dan Kepenterian PUPR, Kepada Daeah se-Kawasan Danau Toba dan masyarakat sangat dibutuhkan dan sangat mendesak dilakukan. Pengelolan secara terpadau dan berkesinambungan adalah tuntan dari UNESKCO Global Geopark.

Secara keseluruhan hambatan dalam pengembangan Global Geopark Toba harus dijawab dengan Deklarasi Kebangkitan Pengembangan Destinasi di Kawasan Danau Toba oleh semua Pemangku Kepentingan (Stakeholders).

Beatufikasi destinasi wisata dan pembangunan infrastruktur oleh Pemerintah Pusat harus dipandang sebagai ajakan kepada Kepala daerah dan masyarakat untuk mengambil peranan dalam pengembangan destinasi secara menyeluruh.(Penulis :Wilfrid B Sinaga)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.